Man Jadda Wa Jadda
Kamis, 22 Desember 2011
0
komentar
Orang berilmu dan beradap tidak akan diam dikampung halaman
Tinnggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak kan keruh menggenang
Singa jika tak akan tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaranjika matahari
diorbitnya tidak bergerak dan terus diamtentu manusia bosan padanya dan enggan
memandang
Biji emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika didalam hutan. (Imam Safii)
Judul
buku
: Negeri 5 Menara
Pengarang
: A. Fuadi
Penerbit :
PT Gramedia Pusat Utama
Kota tempat
terbit : Jakarta
Tahun
terbit
: 2009
Tebal
: xiii + 423 halaman
Ketika
melihat cover buku dari novel Negeri 5 Menara karangan A. Fuadi saya kembali
mengingat "mantra" ajaib yang di novel tersebut. Man jadda
wajadda, mantra yang diajarkan kepada semua murid yang menempuh pendidikan
di pesantren Pondok Madani yang dikisahkan dalam novel tersebut. Kurang lebih
artinya : barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil.
Novel ini
menceritakan tentang Alif seorang anak Minang yang awalnya setengah hati
menempuh pendidikan di pondok pesantren, karena ibunya memaksakan untuk
melanjutkan pendidikannya setelah SMP ke Pesantren Pondok Madani. Untuk anak
seusianya Alif sangat mengingikan melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Umum
dengan beragam bayangannya tentang keindahan masa-masa SMU. Gambaran mengenai
kehidupan pondok pesantren yang mungkin sebagian orang hanya mengira
aktivitasnya hanya sholat dan mengaji disempurnahkan dalam novel ini.
Selama
menempuh pendidikan di Pondok Madani, Alif mendapatkan banyak pengalaman
berharga yang tidak akan dia dapatkan di dunia luar. Pelajaran pertama yang dia
terima yaitu doktrinasi Man Jadda Wajadda yang dengan sekuat
tenaga harus diteriakkan oleh para santri sebelum menerima pelajaran di Pondok
madani. Saya dapat merasakan getaran-getaran gema suara mereka meneriakkan Man
jadda wajadda ketika membaca bagian tersebut. Mantra Inilah dasar dari
jiwa-jiwa yang penuh semangat, motivasi dan optimisme mereka untuk menaklukkan
apapun masalah yang ada di depan mereka. Nilai lain yang ingin disampaikan
yaitu perpaduan antara niat yang ikhlas, usaha dan kerja yang
bersungguh-sungguh, yang dibulatkan dengan doa dan berbaik sangka kepada Allah
selalu menghasilkan sesuatu yang diluar dugaan kita.
Saya sangat
terkesan dengan sistem pendidikan yang diceritakan dinovel ini, Khususnya pada
pengajaran tentang kedisiplinan. 5 menit saja begitu berarti dan pelanggaran
terhadap 5 menit merupakan hal yang sangat dihindari. Militansi semangat
belajar para santri sangat kental terasa, Musim Ujian adalah hari perayaan
terbesar ketiga setelah Idul Fitri dan Idul Adha yang harus dirayakan, bukan
ditakuti !. Belum lagi pelajaran mengenai tanggung jawab dan kepemimpinan,
semuanya sempurnah bagiku untuk menciptakan manusia-manusia yang tidak cengeng,
yang siap menghadapi masalah apapun menjadi manusia yang bermanfaat bukan
menjadi yang dimanfaatkan.
Di Pondok Madani
inilah Alif dan lima orang sahabatnya mulai mengukir satu persatu mimpi-mimpi
mereka. Mereka ingin menambah ilmu mereka dengan mencarinya hingga
keujung-ujung dunia. Novel yang begitu inspiratif dan sedikit konyol.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Man Jadda Wa Jadda
Ditulis oleh Rican Margareta
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://duniarican.blogspot.com/2011/12/man-jadda-wa-jadda.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Rican Margareta
Rating Blog 5 dari 5
0 komentar:
Posting Komentar